Mentan Singgung Harga Beras Rp100 Ribu di Jepang, Titiek Soeharto: Pendapatan Per Kapita Kita Beda, Pak

photo author
Ratna RM, Riau Makmur
- Jumat, 22 Agustus 2025 | 16:52 WIB
Mentan Amran dalam acara syukuran capaian cadangan beras nasional tembus 4 juta ton pada 31 Mei 2025. (Instagram/a.amran_sulaiman)
Mentan Amran dalam acara syukuran capaian cadangan beras nasional tembus 4 juta ton pada 31 Mei 2025. (Instagram/a.amran_sulaiman)

RIAUMAKMUR.COM - Rapat kerja Komisi IV DPR RI bersama Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman diwarnai perdebatan soal harga beras, Kamis (21/8/2025).

Dalam paparannya, Amran membandingkan harga beras di Indonesia dengan Jepang.

Menurutnya, beras di Jepang jauh lebih mahal, sementara di Indonesia sedikit kenaikan saja langsung menuai reaksi masyarakat.

Baca Juga: Mendag Klaim Harga Beras Berangsur Turun, BPS Beberkan Fakta Perbedaan Zona

“Sekarang ini baru naik saja sedikit, ribut, Jepang sudah sampai Rp100 ribu per kilo harga beras hari ini,” ujar Amran di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta.

Pernyataan itu keluar ketika ia menjelaskan soal subsidi pangan Rp150 triliun yang sebagian besar dialokasikan untuk padi.

Amran menguraikan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sekitar 40–48 persen anggaran negara digunakan untuk menjaga stabilitas pangan.

“Anggaplah kita kasar membagi sesuai BPS saja 48 persen atau 40 persen saja artinya yang digunakan uang negara berbisnis, maaf itu kurang lebih Rp60 triliun,” katanya.

Baca Juga: Kemendagri Heran Harga Beras Tetap Naik Meski SPHP Bulog Sudah Digelontorkan

Amran menekankan intervensi pemerintah melalui Harga Eceran Tertinggi (HET) dan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) sangat penting demi kestabilan pangan.

“Kenapa kita intervensi ada HET, kemudian ada HPP, karena ini adalah vital, kalau ini bermasalah itu kita kesulitan,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa ke depan mekanisme akan terus dibahas agar konsumen tetap bisa menikmati harga terjangkau, sementara petani tetap sejahtera.

Namun, perbandingan harga beras dengan Jepang mendapat tanggapan dari Ketua Komisi IV DPR, Titiek Soeharto.

Politikus Gerindra itu menilai perbandingan tidak tepat karena pendapatan per kapita masyarakat kedua negara berbeda jauh.

“Nggak bisa dibandingkan dengan Jepang, income per kapita kita juga lain, Pak,” ucap Titiek.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Ratna RM

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X