RIAUMAKMUR.COM, JAKARTA- Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan RI, Susi Pujiastuti, mencurahkan kemarahan dan kekesalannya atas perlakuan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) terhadap pilot Susi Air, Philips Mehrtens.
Hal tersebut disampaikan Susi Pujiastuti yang merupakan Bos Susi Air melalui sambungan telepon kepada pendeta dan tokoh Papua, Karel Phil Erari. Pasalnya, pilot Susi Air, Philips Mehrtens, yang disandera oleh KKB.
KKB sendiri sudah cukup lama menyandera pilot Susi Air, Philips Mehrtens. Susi Pujiastuti tak kuasa menahan tangis saat berdialog dengan Karel Phil Erari.
Baca Juga: Mantan Menteri Perikanan dan Kelautan Susi Setir Mobil Pick Up dan Minta Rokok, Dipuji Netizen Sederhananya
"Saya bicara dengan Bapak saya nangis karena saya marah. Tidak adil, kalian tidak adil kepada saya. Saya perempuan sendiri cari makan, untuk menghidupi ratusan ribuan orang, kalian aniaya," ujar Susi dilansir dari rekaman panggilan telepon yang tersebar di media sosial.
"Marah saya Pak Phil," katanya lagi yang diikuti suara terisak.
Rekaman pembicaraan ini juga telah diizinkan oleh Sudi Pudjiastuti untuk ditayangkan sebagai sumbet pemberitaan.
Baca Juga: Sempat Gaungkan Nama Erick Thohir, PAN Riau Siap Jika Dukungan Dialihkan ke Ganjar Pranowo
Menanggapi kekesalan Susi Pudjiastuti, Karel Phil pun meminta maaf. Ia menyampaikan rasa simpatik untuk Susi. "Saya ikut menangis bersama Bu Susi. Sehat-sehat Bu Susi, God bless you," kata Karel Phil.
Susi lantas meminta maaf kepada Karel karena bercerita sampai menangis. Tapi dia mengakui bahwa itu merupakan luapan emosinya yang tak tertahan lagi.
Ia kemudian menceritakan bahwa dalam sehari, maskapai Susi Air melakukan sebanyak 70 hingga 90 penerbangan untuk membawa bahan makanan, obat-obatan, membantu transportasi warga Papua hingga membawa bantuan kepada anak-anak.
"Saya cuci luka anak-anak. Saya sekolahkan anak-anak Papua. Kenapa pesawat saya dibakar? Pilot saya diculik. Apa, apa kejahatan saya sehingga mereka jahati saya seperti ini?" kata Susi Pudjiastuti
Ia mengatakan, sempat merasa senang setelah pihak KKB menyatakan ingin bernegosiasi dengan TNI dan Polda Papua.
Namun, dua hari kemudian ada dua pasukan TNI yang ditembak oleh KKB.
"Itu kan apa? Katanya mau negosiasi tapi kalian bunuh putra-putra bangsa. Saya jadi lebih marah lagi. Mau diambil apa? Sementara orang lain yang cari untung saja di Papua kalian biarkan," ujar Susi.
Sebagaimana diketahui, KKB pimpinan Egianus Kogoya membakar pesawat Susi Air di Bandar Udara Paro, Kabupaten Nduga, Papua Pegunungan pada 7 Februari 2023.
Tak hanya membakar, faksi ini juga menyandera sang pilot, Philips, yang hingga detik ini tak kunjung dibebaskan KKB.
Dalam upaya pembebasan Philips, KKB sedianya sudah membuka diri untuk melakukan negosiasi.
Akan tetapi, beberapa waktu kemudian, mereka justru menembaki personel TNI dari Satuan Tugas Batalion Infanteri (Yonif) Raider 321/Galuh Taruna Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad) di Distrik Mugi, Nduga, Papua Pegunungan pada 15 April 2023.
Setidaknya, ada empat personel TNI yang gugur. Mereka adalah Prajurit Satu (Pratu) Miftahul Arifin, Pratu Ibrahim, Pratu Kurniawan, dan Prajurit Dua (Prada) Sukra. ***
Artikel Terkait
86,9 Persen Jamaah Calon Haji Riau Telah Lunasi Biaya Haji, Batas Pelunasan Biaya Haji Sampai 12 Mei 2023
Ini Alur dan Cara Pengurusan Sertifikat Halal
Buka Akun Medsos Baru, Grup KPop Generasi ke-2 INFINITE Isyaratkan Akan Comeback?
Hasil Undian Bulu Tangkis Beregu SEA Games 2023: Tim Putri vs Tuan Rumah, Chico dkk Langsung ke Semifinal
Pernah Gagal di Indonesian Idol, Inilah Potret Zayyan Setelah Berhasil Debut di Korea
Bus Duta Wisata Tangerang Kecelakaan dari Parkiran Terguling Masuk ke Sungai di Kawasan Wisata Guci Tegal
TikToker Bima Yudho Saputro Dikecam Usai Kritik Jokowi Tinjau Jalan Rusak Pakai Mercy di Lampung
Penyebab Rumah Dokter Wayan Karawang Kumuh Penuh Sampah, Ternyata Begini Pengakuan Keluarga
Beginilah Gambaran Masa Kehancuran Alam Semesta, Sebelum Matahari Benar-Benar Padam
Raih Kemenangan ke-5 di Inkigayo, Super Jadi Lagu Kedua Seventeen yang Cetak Prestasi Grand Slam