berita

Pulau Semut: Keindahan di Sudut Kota Pekanbaru yang Berawal dari 'Kojo Gilo' Hingga Besarnya Peran Pertamina

Sabtu, 28 Oktober 2023 | 21:11 WIB
Jembatan menuju Ekowisata Pulau Semut.

"Walau keadaannya masih begini, tapi ya Alhamdulillah, banyak sekali manfaat yang sudah kami terima dari Pertamina Patra Niaga, kalau cuma swadaya kami tak mungkin bisa sampai seperti ini," ujar Supardi alias Ipal, saat berbincang dengan wartawan yang datang ke ekosiwisata Pulau Semut, Kelurahan Limbungan, Kecamatan Rumbai Timur, Kota Pekanbaru.

Supardi merupakan tokoh penting atas munculnya objek wisata baru di Kota Pekanbaru, yakni Pulau Semut. Yang saat ini cukup diminati oleh masyarakat Pekanbaru untuk bersantai-santai maupun untuk menggelar kegiatan luar ruangan. Bagi masyarakat Kota Pekanbaru, Pulau Semut menjadi salah satu destinasi wisata yang sangat mudah dijangkau, sehingga banyak keluarga yang menghabiskan waktu liburan disini. Tak hanya keluarga saja, kelompok mahasiswa juga banyak yang melakukan aktivitas luar ruangan.

Misalnya, ketika rombongan peserta Media Briefing Anugrah Jurnalistik Pertamina (AJP) yang diselenggarakan oleh Pertamina Refinery Unit (RU) II Dumai, Minggu, 6 Oktober 2023, belasan mahasiswa yang mengenakan almamater biru langit, khas Universita Riau, tengah melakukan kegiatan kemahasiswaan tengah berkumpul.

“Mereka sudah dua hari ini, mereka pasang tenda juga, hampir setiap minggu selalu ada kelompok mahasiswa yang buat kegiatan disini, kita cuma minta tarif Rp 15 ribu satu orang untuk satu minggu. Tapi biasanya paling lama 3 hari saja,” kata Supardi.

Suasana yang sejuk dan tenang menjadi alasan, kenapa Pulau Semut layak menjadi destinasi bagi masyarakat yang mulai penat dengan kebisingan di Kota Pekanbaru. Ditambah lagi, ada kuda yang bisa disewa oleh para pengunjung. Istal atau kandang kuda ini berada di depan pintu gerbang masuk ekowisata Pulau Semut.

Lokasi Ekowisata Pulau Semut ini sendiri berlokasi di Jalan Pembina No. 3, Kecamatan Rumbai Timur, Kota Pekanbaru, Provinsi Riau. Dari pusat kota, kawasan wisata ini bisa ditempuh dengan memakan waktu kurang lebih 20 menit. Daya tarik yang ditawarkan oleh wisata ini adalah pemandangan alam indah yang menyegarkan. Pemandangan berupa Sungai Siak dengan tumbuhan bakau serta pepohonan yang teduh bisa dinikmati di sini.        

Dengan pemandangan yang indah tersebut, wisatawan yang datang pun kerap berfoto dengan latar belakang tumbuhan bakau dan sungai. Terdapat jembatan yang bisa dilewati untuk melihat tumbuhan bakau lebih dekat dan cocok untuk dijadikan spot foto estetik. Tak hanya berfoto, piknik di pinggir sungai ataupun duduk-duduk di tepi bebatuan sambil memancing juga bisa dilakukan. Jika datang di sore hari, pemandangan matahari terbenam juga menjadi daya tarik tersendiri dari kawasan wisata ini.

Namun siapa sangka, dibalik keindahan dan ketenangan ekowisata Pulau Semut, ternyata daerah ini terancam hilang akibat abrasi Sungai Siak. Bahkan, Pulau Semut yang memiliki luas 15x 15 meter ini terpisah dari daratan, akibat abrasi, yang kemudian menciptakan sebuah pulau.

Untungnya, ada Supardi yang menjadi inisiator terbentuknya ekowisata Pulau Semut. Supardi yang saat ini diamanahkan menjadi Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Pulau Semut mengungkapkan, ada banyak sekali bantuan yang telah diberikan Pertamina Patra Niaga, dalam pengembangan ekowisata ini, dan dia meyakini jika tanpa bantuan Pertamina, pihaknya tidak akan mampu berbuat sejauh ini untuk ekowisata Pulau Semut.

Diceritakan dia, tanah tempat ekowisata Pulau Semut ini berdiri sekarang, dulunya tidak memiliki nilai ekonomis. Apalagi, jumlah populasi semut di wilayah ini sangat luar biasa, sehingga banyak yang enggan berkunjung kesini.

"Saya dulu waktu membuka lahan disini, waduh luar biasa (semutnya), bayangkan saja, setiap saya tebas pohon, semutnya langsung keluar, sampai badan saya ini tertutup sama semut. Kadang, setelah menebang pohon, saya langsung terjun ke sungai, biar semutnya hilang, karena dia nempel-nempel gitu," ujar Supardi saat menceritakan sejarah ekowisata Pulau Semut.

Sambil menikmati makanan yang disediakan kelompok ibuk-ibuk sekitar ekowisata Pulau Semut, Supardi melanjutkan ceritanya. Diawal-awal pembangunan ekowisata Pulau Semut ini, Supardi hanya bekerja sendiri dan menerima banyak sekali sindiran dari banyak orang, bahkan dia disebut melakukan "kojo gilo" (kerja gila) oleh masyarakat sekitar.

Oleh karena sindiran itu, Supardi bukannya menghentikan pekerjaannya, dia malah mengajak tokoh masyarakat lain untuk melakukan hal yang sama. Dan tentunya, dia terlebih dahulu harus mempresentasikan potensi ekonomi di Pulau Semut ini, dan hasilnya, semua sepakat untuk mewujudkan Pulau Semut sebagai lokasi yang harus diperhatikan secara bersama-sama.

"Setelah saya pikir-pikir benar juga, saya menebas lahan, saya mencari kayu besar sendiri untuk dijadikan tonggak jembatan, wajar kalau orang bilang itu 'kojo gilo'. Makanya, saya ajak Pak RT, Pak RW, dan tokoh masyarakat lain, biar sama-sama gila kita," katanya sambil tertawa.

Halaman:

Tags

Terkini