Berkat kegigihan dia bersama tokoh masyarakat inilah, ekowisata Pulau Semut menjadi semakin berkembang, dan mulai dikenal oleh masyarakat Pekanbaru, meskipun dengan fasilitas yang seadanya.
Awalnya, niat Supardi bersama warga lainnya dalam membuka lahan ini tidak muluk-muluk, hanya menjadikan Pulau Semut sebagai spot memancing, apalagi di tahun 2020 itu antusias masyarakat Pekanbaru memancing sangat tinggi, karena ada pandemi Covid-19. Sehingga, jika Pulau Semut bisa menjadi spot memancing, maka banyak masyarakat yang akan berkunjung kesini.
Supardi meyakini, jika Pulau Semut ramai didatangi banyak pengunjung, maka dampak positif dari sektor ekonominya akan luar biasa, mengingat selama ini anggota kelompok Pokdarwis, pada umumnya bekerja sebagai nelayan. Sehingga, sektor perdagangan, khususnya kuliner akan sangat membantu kondisi ekonomi masyarakat.
“Alhamdulillah, sekarang ada sekitar 500an orang yang berkunjung ke Ekowisata Pulau Semut setiap minggunya. Pengunjung hanya kita kutip uang parkir saja, Rp 5 ribu untuk motor, dan Rp 10 ribu untuk mobil,” tuturnya.
Intervensi Pertamina Patra Niaga
Saat ini, lokasi ekowisata Pulau Semut menjadi salah satu program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut melalui unit operasi Fuel Terminal (FT) Sei Siak. Community Development Office Pertamina Patra Niaga, Hanifa, mengatakan, pihaknya memberikan support penuh atas kelangsungan lokasi ekowisata ini, dan ada banyak program yang telah dijalankan maupun masih dalam tahap perencanaan.
Intervensi Pertamina Patra Niaga terhadap lokasi ekowisata ini berawal dari komunikasi yang baik antara Pertamina Patra Niaga dengan lurah setempat. Dimana, Pertamina Patra Niaga memandang perlu dilakukan intervensi di Pulau Semut, karena wilayah ini berada di pinggiran Sungai Siak, yang merupakan lalu lintas kapal-kapal milik Pertamina.
"Setelah kita semua satu persepsi, baru kita lakukan intervensi, dan pemerintah disini sangat mendukung apa yang kita buat ini. Karena, setiap rencana pembangunan kita selalu berkoordinasi," kata Hanifa.
Dalam setiap pembangunan yang dilaksanakan, Pertamina Patra Niaga selalu berupaya agar 'nyawa' dari ekowisata Pulau Semut tetap terjaga. Sehingga, semuanya berpedoman pada keasrian Pulau Semut. Pada dasarnya, menurut Hanifa, pihaknya ingin kelestarian lingkungan di Pulau Semut terjaga, disamping juga membuat masyarakat di sekitar lokasi ekowisata Pulau Semut, mengalami peningkatan di sektor sosial dan ekonomi.
"Melalui Pokdarwis yang diketuai Pak Supardi ini, kita selalu berkoordinasi, didalamnya ada sekitar 35 anggota. Dan saat ini kami itu fokus pada infrastruktur, yang salah satunya pembangunan turap ini, karena kita tidak mau Pulau Semut ini hilang," tambahnya.
Selain membangun turap, Pertamina Patra Niaga pada tahun 2021 juga sudah memberikan 350 bibit pohon ketapang di sepanjang gerbang masuk ekowisata Pulau Semut. Saat ini, pepohonan sudah mulai bertumbuh berkat hasil kerjasama Pokdarwis dan Pertamina Patra Niaga. Diharapkan, pepohonan ini akan membuat lokasi ekowisata Pulau Semut semakin rindang, dan membuat para pengunjung semakin nyaman.
Tiga Tahun Intervensi Pertamina Patra Niaga
Junior Officer II Communication and Relation PT Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut Rendy Saputra, mengungkapkan alasan pihaknya memberi perhatian yang besar dalam pengembangan lokasi Ekowisata Pulau Semut. Pasalnya, Ekowisata menjadi produk pariwisata yang diminati pasca pandemi Covid-19. Pertamina juga melihat kesadaran masyarakat dan modal sosial gotong royong terhadap potensi lingkungan sekitar.