RIAUMAKMUR.COM, - Sekretaris Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Abdul Mu’ti, menilai prinsip kepemimpinan di tubuh Muhammadiyah selama ini sangat baik, dan tidak pernah memutuskan antar periode kepemimpinan.
Hal tersebut disampaikan Abdul Mu'ti, saat menyampaikan kata sambutan di Pengukuhan Pimpinan Daerah Muhammadiyah dan Áisyiyah (PDMA) Kabupaten Tegal, 27 Mei 2023, dilansir dari muhammadiyah.or.id.
Dalam setiap levelnya, kata Abdul Mu'ti, suksesi kepemimpinan di Muhammadiyah merupakan tradisi yang sangat menarik sebab jarang ditemukan di tempat lain.
Baca Juga: Minangkabau Patut Berbangga, Gedung Muhammadiyah di Makassar Pakai Arsitektur Rumah Gadang, Ini Alasannya
Pasalnya, tidak jarang ada sosok senior yang digantikan oleh tokoh yang lebih muda. Fenomena ini menjadi menjadi hal yang lumrah terjadi di lingkungan Persyarikatan Muhammadiyah.
“Ternyata kepemimpinan muda itu bisa membawa kemajuan yang signifikan,” kata Mu’ti.
Mu’ti menjelaskan, prinsip utama dalam kepemimpinan di Muhammadiyah, Islam bahkan kepemimpinan di manapun adalah amanah.
Baca Juga: Untuk Memperluas Gerakan Dakwah Muhammadiyah, PWM Riau Dorong Kader Ikut di Pemilu 2024, Ini Penjelasannya..
Dalam konteks ini, amanah bisa diartikan sebagai kompetensi atau kemampuan. Prinsip ini melahirkan suatu sistem yang dalam teori kepemimpinan disebut sebagai meritokrasi.
Amanah juga bisa berarti sebagai trust atau kepercayaan, dalam hal ini amanah memberikan kenyamanan dan membuat penerima amanah dan yang menitipkan amanah bisa bekerja dengan saling percaya. Sementara dalam teori kepemimpinan, amanah sebagai kepercayaan melahirkan akuntabilitas.
Prinsip amanah juga dapat dikaitkan atau dimaknai sebagai beban. “Karena memang menjadi pimpinan itu tidak mudah, menjadi pimpinan itu tidak ringan. Walaupun disebutkan bahwa ketua itu dimajukan selangkah dan ditinggikan seranting, tetapi tetap saja responsibility ketua itu lebih tinggi dibanding anggota.” Imbuhnya.
Baca Juga: Jaga Nama Baik di Pemilu 2024, Kader Muhammadiyah Dilarang Bawa-bawa Nama Simbol Organisasi
Tradisi kepemimpinan lain yang unik di Muhammadiyah adalah setiap tokoh atau kader saling menolak untuk mencalonkan dan dicalonkan. Bahkan tidak jarang suara terbanyak saat permusyawaratan, lebih memilih untuk tidak menjadi ketua, padahal peluangnya menjadi ketua terbuka begitu lebar.
“Itu banyak terjadi di persmusyawaratan baik di tingkat wilayah maupun daerah, di mana suara terbanyak tidak otomatis menjadi ketua, ketika yang bersangkutan memilih untuk memberikan kesempatan kepada yang lain. Ini saya kira menjadi tradisi, menjadi sistem yang berkembang di Muhammadiyah," ungkap Mu’ti.***
Artikel Terkait
Cegah Kanker, Kemenkes Gencarkan Program Promotif dan Preventif
Diskominfo Rohil Minta Pemasangan Internet Murah di Kepenghuluan Bangko Mukti Digesa
Sedang Live Jualan di TikTok, Oma Dewi Ditanya Soal Rebecca Klopper, Responnya Jadi Kayak Gini
Jenis Bunga Berikut Ini Dinobatkan Sebagai Bunga Terbesar di Dunia
Dikalahkan Unggulan Pertama asal Jepang, Jorji Raih Runner-Up Malaysia Masters 2023
Muscab Pemilihan Ketua IDI Pekanbaru 2023-2026 Diikuti 3 Dokter, Ini Kandidatnya
Besok, Gubri Syamsuar Terima Penghargaan dan Teken MoU dengan UII dan UNY
Berkat Inovasi, Perwira PT KPI RU Dumai Boyong 10 Penghargaan di Ajang APQA 2023
Serunya, Puluhan Bikers dan CDN Riau Eksplor Wisata Air Terjun Guruh Gemurai dengan Honda CB150X
Ganjar Pranowo Safari ke Masjid Agung Banten, Netizen Singgung Soal Politik Identitas