politik

Minangkabau Patut Berbangga, Gedung Muhammadiyah di Makassar Pakai Arsitektur Rumah Gadang, Ini Alasannya

Kamis, 25 Mei 2023 | 10:15 WIB
Gedung Dakwah Muhammadiyah di Sulawesi Selatan, yang menyerupai Rumah Gadang.

RIAUMAKMUR.COM, - Minangkabau merupakan suku asli dari Provinsi Sumatera Barat yang terkenal sebagai suku yang sangat religius, banyak tokoh agama yang lahir ranah minang.

Tak hanya di Sumatera Barat saja, tapi eksistensi ulama minangkabau sudah sampai ke luar daerah, mulai dari tingkat nasional hingga internasional.

Tak sekedar eksistensi saja banyak ulama Minangkabau yang kemudian memberikan pengaruh yang sangat besar di daerah tempatnya menyampaikan dakwah. Sehingga, ciri khas Sumatera Barat bisa dijumpai di daerah tersebut.

Baca Juga: Untuk Memperluas Gerakan Dakwah Muhammadiyah, PWM Riau Dorong Kader Ikut di Pemilu 2024, Ini Penjelasannya..

Salah satunya adalah Gedung yang berbentuk 'Rumah Gadang' di Provinsi Sulawesi Selatan. Gedung ini dibuat memakai arsitektur Minangkabau untuk mengabadikan peran ulama minangkabau di daerah tersebut

Rumah Gadang sendiri merupakan bangunan tradisional Minangkabau yang memiliki ciri khas atap melengkung yang tinggi dan berbentuk tanduk kerbau.

Bangunan ini selain difungsikan sebagai tempat tinggal, juga dijadikan sebagai tempat musyawarah dan melangsungkan kegiatan adat, agama, keluarga, serta suku.

Baca Juga: Peneliti BRIN Yang Berkomentar Bernada Ujaran Kebencian ke Muhammadiyah Ditetapkan Tersangka

Adapun gedung ini merupakan milik Pimpinan Wilayah (PW) Muhammadiyah Sulawesi Selatan, yang berada di Jalan Perintis Kemerdekaan, Kota Makassar.

Pengurus Muhammadiyah Sulsel, Haidir Fitra Siagian. Ia mengisahkan, gedung ini memang sengaja dibuat menyerupai Rumah Gadang, karena ada amanah dari pemilik tanah, almarhum Mustamin Daeng Matutu.

Ini merupakan cara masyarakat Sulsel mengenang dan mengabadikan tiga ulama Minangkabau yang membawa syiar Islam ke Sulsel.

Baca Juga: Pengurus Muhammadiyah dan NU Dilibatkan Jadi Panelis UKK Bacaleg PKB Sulsel


“Semasa hidupnya, beliau adalah tokoh senior masyarakat Bulukumba dan dosen Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin. Beliaulah yang mewakafkan tanah ini ke Persyarikatan Muhammadiyah Sulsel awal tahun 1990an,” tulis Haidir, dilansir dari infosumbar.

Saat menyerahkan wakaf,  lanjut Haidir, Mustamin Daeng Matutu meminta secara khusus agar bangunan dibuat menyerupai rumah adat Minangkabau dengan tujuan mengenang jasa tiga ulama Minang yang membawa Islam ke Sulsel.

Ketiganya adalah Datuk ri Bandang (Abdul Makmur, Khatib Tunggal), Datuk ri Tiro (Abdul Jawad, Khatb Bungsu) dan Datuk ri Pattimang (Sulaiman, Khatib Sulung).

Tiga ulama yang berasal dari Koto Tangah, Minangkabau ini datang menyebarkan agama Islam ke Kerajaan Luwu, Sulawesi sejak tahun 1593. Peran mereka sangat penting dalam menyebarkan agama Islam ke kerajaan-kerajaan yang berada di Sulsel pada masa itu.

Mereka menyebarkan agama Islam dengan cara membagi wilayah syiar, berdasarkan keahlian yang mereka miliki dan kondisi serta budaya warga Bugis ketika itu.

Datuk Patimang yang pakar tentang tauhid melaksanakan syiar Islam di Kerajaan Luwu, sedangkan Datuk ri Bandang yang pakar fikih di Kerajaan Gowa dan Tallo sementara Datuk ri Tiro yang pakar tasawuf di daerah Tiro dan Bulukumba.

Seperti umumnya budaya dan tradisi warga nusantara pada masa itu, masyarakat Sulsel juga menganut kepercayaan animisme dan dinamisme yang banyak diwarnai hal-hal mistik dan menyembah para dewa. Namun dengan pendekatan dan cara yang sesuai, syiar Islam yang disampaikan ketiga ulama itu dapat diterima Raja Luwu dan masyarakatnya.

Berawal dari masuk Islamnya seorang petinggi kerajaan yang bernama Tandi Pau, lalu berlanjut dengan masuk Islamnya raja Luwu yang bernama Datu’ La Pattiware Daeng Parabung pada 4-5 Februari 1605, seluruh pejabat istana dan masyarakat menerima Islam setelah menempuh diskusi yang panjang dengan sang ulama.

Setelah itu, agama Islam menjadi agama kerajaan dan hukum-hukum Islam dijadikan sebagai sumber rujukan hukum bagi kerajaan.

Ketiga ulama ini hingga akhir hidupnya menetap dan dimakamkan di Sulsel. Makam Datuk ri Bandang berada di Jalan Sinassara, Kecamatan Tallo, Makassar. Datuk Pattimang wafat di Desa Pattimang, Luwu. Sementara pusara Datuk ri Tiro dapat dijumpai di Kelurahan Eka Tiro, Kecamatan Bonto Tiro, Bulukumba.

Masyarakat Bugis juga memberi gelar ketiganya dengan sebutan Datuk Tellue atau Datuk Tallua. Gelar ini diberikan sebagai penghormatan atas jasa ketiganya membawa Islam ke tanah Daeng. ***

Tags

Terkini