politik

Ini Ternyata yang Bikin Organisasi Muhammadiyah Stabil, Suara Terbanyak Belum Tentu Mau Jadi Ketua

Minggu, 28 Mei 2023 | 19:06 WIB
Sekretaris Umum Pimpinan Muhammadiyah, Abdul Mu'ti.

RIAUMAKMUR.COM, - Sekretaris Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Abdul Mu’ti, menilai prinsip kepemimpinan di tubuh Muhammadiyah selama ini sangat baik, dan tidak pernah memutuskan antar periode kepemimpinan.

Hal tersebut disampaikan Abdul Mu'ti, saat menyampaikan kata sambutan di Pengukuhan Pimpinan Daerah Muhammadiyah dan Áisyiyah (PDMA) Kabupaten Tegal, 27 Mei 2023, dilansir dari muhammadiyah.or.id.

Dalam setiap levelnya, kata Abdul Mu'ti, suksesi kepemimpinan di Muhammadiyah merupakan tradisi yang sangat menarik sebab jarang ditemukan di tempat lain.

Baca Juga: Minangkabau Patut Berbangga, Gedung Muhammadiyah di Makassar Pakai Arsitektur Rumah Gadang, Ini Alasannya

Pasalnya, tidak jarang ada sosok senior yang digantikan oleh tokoh yang lebih muda. Fenomena ini menjadi menjadi hal yang lumrah terjadi di lingkungan Persyarikatan Muhammadiyah.

“Ternyata kepemimpinan muda itu bisa membawa kemajuan yang signifikan,” kata Mu’ti.

Mu’ti menjelaskan, prinsip utama dalam kepemimpinan di Muhammadiyah, Islam bahkan kepemimpinan di manapun adalah amanah.

Baca Juga: Untuk Memperluas Gerakan Dakwah Muhammadiyah, PWM Riau Dorong Kader Ikut di Pemilu 2024, Ini Penjelasannya..

Dalam konteks ini, amanah bisa diartikan sebagai kompetensi atau kemampuan. Prinsip ini melahirkan suatu sistem yang dalam teori kepemimpinan disebut sebagai meritokrasi.

Amanah juga bisa berarti sebagai trust atau kepercayaan, dalam hal ini amanah memberikan kenyamanan dan membuat penerima amanah dan yang menitipkan amanah bisa bekerja dengan saling percaya. Sementara dalam teori kepemimpinan, amanah sebagai kepercayaan melahirkan akuntabilitas.

Prinsip amanah juga dapat dikaitkan atau dimaknai sebagai beban. “Karena memang menjadi pimpinan itu tidak mudah, menjadi pimpinan itu tidak ringan. Walaupun disebutkan bahwa ketua itu dimajukan selangkah dan ditinggikan seranting, tetapi tetap saja responsibility ketua itu lebih tinggi dibanding anggota.” Imbuhnya.

Baca Juga: Jaga Nama Baik di Pemilu 2024, Kader Muhammadiyah Dilarang Bawa-bawa Nama Simbol Organisasi

Tradisi kepemimpinan lain yang unik di Muhammadiyah adalah setiap tokoh atau kader saling menolak untuk mencalonkan dan dicalonkan. Bahkan tidak jarang suara terbanyak saat permusyawaratan, lebih memilih untuk tidak menjadi ketua, padahal peluangnya menjadi ketua terbuka begitu lebar.

“Itu banyak terjadi di persmusyawaratan baik di tingkat wilayah maupun daerah, di mana suara terbanyak tidak otomatis menjadi ketua, ketika yang bersangkutan memilih untuk memberikan kesempatan kepada yang lain. Ini saya kira menjadi tradisi, menjadi sistem yang berkembang di Muhammadiyah," ungkap Mu’ti.***

Tags

Terkini