RIAUMAKMUR.COM, PEKANBARU- Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Riau dan Pengurus Wilayah (PW) Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Riau, menerima permintaan maaf dari Ketua Panitia Milad ke-58 Indragiri Hilir.
Sebagaimana diketahui, Ketua Panitia Milad Inhil, Sutarno Wandoyo mengakui adanya kelalaian atas logo Milad Indragiri Hilir ke-58 dengan logo Milad ke-58 Ikatan Pelajar Muhammadiyah tahun 2019.
Ketua DPD IMM Riau, Ali Topan mengucapkan terimakasih atas ketertarikan karya design logo aktivis muhammadiyah oleh panitia Milad Inhil, sehingga bisa dipakai dalam acara Milad. Meskipun, ketertarikan itu tanpa melalui proses izin.
Baca Juga: Logo HUT 58 Indragiri Hilir Diduga Plagiat, Aktivis Muhammadiyah: Krisis SDM, Buat Logo Aja Malas
Panitia Milad Inhil, kata Ali Topan, memiliki sikap yang sangat berbeda dengan pemerintah di daerah lain, dimana biasanya pemilihan logo Milad melalui proses sayembara.
Disampaikan Ali Topan, pihaknya sudah menerima tanggapan dari banyak aktivis Muhammadiyah terkait plagiasi logo ini, baik dari IMM maupun IPM. Dan pada intinya, Muhammadiyah sudah menerima permintaan maaf ini.
Aktivis Muhammadiyah, jelas dia, sudah melakukan tracking terhadap kinerja Bupati Indragiri Hilir, HM Wardan. Dan diketahui, HM Wardan menerima banyak penghargaan, mulai dari Komisi Informasi (KI) dalam kategori Pelopor Keterbukaan Informasi Publik Pemerintahan Desa Tahun 2017, kemudian ada penghargaan dari BPMP Riau atas Komitmen tingkatkan mutu pendidikan, dan masih banyak penghargaan lainnya.
Baca Juga: Logo HUT Indragiri Hilir Diduga Plagiat, Ini Kata Andi Darma Taufik
"Kami dari DPD IMM dan PW IPM Riau juga ingin memberikan penghargaan kepada beliau, atas prestasinya dalam memplagiasi logo milad yang ke-58. Karena kami yakin, tidak ada bupati atau kepala daerah lain yang punya prestasi seperti ini," tegas Ali Topan.
Selain memberi penghargaan ini, aktivis Muhammadiyah juga menitipkan pesan singkat kepada Bupati Indragiri Hilir, HM Wardan, beserta dengan jajarannya di lingkungan Pemkab Inhil.
"Salah satu pengkerdilan terkejam dalam hidup adalah membiarkan pikiran yang cemerlang menjadi budak bagi tubuh yang malas, yang mendahulukan istirahat sebelum lelah. Semoga peristiwa ini menjadi refleksi dan resolusi yang terjadi di milad kali ini," katanya.
Baca Juga: Diikuti Seribu Lebih Peserta, Ida Yulita Susanti Buka Pelatihan UMKM di Tiga Bidang
Sementara itu, Ketua PW IPM, Indah Pebriza, mengaku ada rasa bangga jika logo yang dibuat oleh IPM bisa dipakai oleh panitia Milad di tingkat Kabupaten.
"Pada konteks ini tentu satu kebanggaan bagi kami, IPM, atas karya seni kami yang resmi diambil untuk logo milad ke-58 kabupaten inhil. Meskipun kami kesal pemakaian logo tanpa ini izin," ujarnya.
Lebih jauh, DPD IMM dan PW IPM Riau masih meragukan mekanisme yang dilakukan oleh panitia, sehingga bisa terjadi hal demikian. Padahal setiap pengecekan logo Milad ke-58, yang keluar hanya logo Milad IPM.
"Apa memang tidak ada proses mekanisme pengecekan berlapis dari panitia yang dilakukan, lalu disodorkan kepada Pemkab, sebelum akhirnya Pemkab menentukan logo yang akan dipakai," kata Ali Topan.
Yang kedua, lanjut Ali Topan, pihaknya juga meragukan sistem penganggaran untuk acara Milad ini. Pasalnya, kesemarakan dan kemeriahan Milad berkurang dibanding tahun-tahun sebelumnya.
"Apakah memang ada penekanan angka seminim mungkin dari panitia ataupun dari Pemkab sendiri. Sehingga kami menduga ada proses yang 'dipotong-potong'," katanya.
Baca Juga: Jadi Motor Penggerak Menolak Pemilu Tertutup, Golkar Riau Imbau Caleg Untuk Makin Aktif Turba
Untuk itu, aktivis Muhammadiyah meminta kepada pihak terkait untuk melakukan pengecekan terhadap pelaksanaan iven Milad ini.
"Kami berharap keterbukaan informasi terkait penganggaran yang dilakukan, karena sekelas kabupaten kok bisa terjadi kejadian fatal yang dianggap sepele. Ini sangat memalukan jika benar adanya permasalahan anggaran, tidak logis dengan banyak perusahaan besar di wilayah Indragiri Hilir," tutupnya.***