Kang Gepeng sadar dulunya kebun ini adalah hutan yang telah dibabat untuk dijadikan lahan transmigrasi. Sebelum orang-orang menghuni lahan tersebut, monyet dan satwa lain telah lama hidupndi sana.
Dari pengalaman itu, Kang Gepeng mulai berpikir untuk meninggalkan kebiasaan menanam jagung. Ia pun lebih fokus ke tanaman padi dan cokelat. Dua tanaman andalan itulah yang kemudian mengangkat derajat ekonominya.
“Sumber pangan sudah cukup, ada sisa ditabung. Akhirnya saya mampu membeli satu ekor sapi, sekarang berkembang menjadi tujuh ekor,” tutur Kang Gepeng.
Sebagai petani, Kang Gepeng bertekad meningkatkan keterampilannya dalam membudidayakan tanaman cokelat. Ia tidak mau bergantung pada pemberian pemerintah atau orang lain. Untuk itu, ia juga belajar sambung samping cokelat. Dengan teknik itu, cokelat berbuah lebih rendah, lebih mudah dipetik.
Baca Juga: Enam Kader Posyandu di Berlomba jadi yang Terbaik di Padang Panjang Timur
“Setelah program sambung samping ini, dalam 1-3 tahun kami mendapatkan hasil dari 200 kg/ha/bulan menjadi 250 kg/ha/bulan. Waktu itu cokelat dari Desa Saritani terkenal,” ungkap Kang Gepeng.
Sayangnya, nasib baik tidak selalu menyertai Kang Gepeng dan para petani cokelat lainnya di Gorontalo. Sekitar 2-3 tahun setelah berhasil mengembangkan teknik sambung samping, datang virus yang memporak-porandakan tanamannya di tahun 2016.
Para petani yang dibantu petugas pertanian tidak mampu mengatasi serbuan virus itu. Upaya maksimal sudah dilakukan, tapi tetap saja tidak berhasil. Petugas penyuluh lapangan (PPL) yang sering datang ke desa bahkan menganjurkan macam-macam cara untuk melawan virus, tapi tidak ada hasilnya.
Baca Juga: Capaian Akseptor KB Baru di Padang Panjang Lebihi Target
“Akhirnya cokelat kami telantarkan. Sebagian ditebang diganti dengan kelapa,” tutur Kang Gepeng.
Masalah yang dihadapi para petani tidak berhenti sampai di situ. Kebun yang bersebelahan dengan hutan juga harus dijaga agar tidak dobrak-abrik monyet atau satwa liar lainnya. Banyak pohon dirusak babi dan yaki. Pendapatan pun turun, kemudian para petani hanya mengandalkan padi.
Ternyata menanam padi pun setali tiga uang dengan cokelat. Bukan hanya hama yang menyerang. Program pemerintah yang memberi ruang masuknya perkebunan sawit pun membuat sumber air habis. Sawah tidak bisa ditanami padi lagi.
Baca Juga: Desentralisasi Untuk Beri Pelayanan Publik Efektif, Efisien dan Ekonomis
Menurut Kang Gepeng, dari 60 ha sawah di Saritani, 40 ha sudah mengering tidak kebagian air. Pasalnya, mata air yang berasal dari gunung sudah tidak mengalir hingga ke sawah. Karena gunung-gunung sudah ditanami sawit.
Artikel Terkait
Capaian Akseptor KB Baru di Padang Panjang Lebihi Target
Enam Kader Posyandu di Berlomba jadi yang Terbaik di Padang Panjang Timur
UMRI Berikan Penghargaan Kepada Dosen dan Mahasiswa Peraih Pendanaan Proposal Pada Ajang PKM Tahun 2024
Tinjau Pembangunan PLHUT Pelalawan, Ditjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah Lakukan Monitoring dan Evaluasi
Plh Bupati Dairi Surung Charles Bantjin Pimpin Upacara Peringatan Hari Otonomi Daerah Ke-28 Tahun 2024
Sudah 90 Persen Lebih, Penetapan NIP PPPK Pemprov Riau Tahun 2023 Hampir Rampung
Pj Sekda Riau Hadiri Pengukuhan Profesor Kehormatan Akmal Malik
Balai Besar KSDA Jatim Gandeng TNI AL Jaga Suaka Margasatwa Pulau Nusa Barung
Awal Mei Disdik Riau Mulai Lakukan Sosialisasi PPDB
Bank Jatim Apresiasi Penghimpun Dana Terbesar Simpeda