“Untungnya datang program Global Environment Facility Small Grants Programme (GEF SGP) Indonesia. Kami diajak bicara, membentuk kelompok tani. Para perempuan juga dirangkul, ini penyemangat bertani,” ungkap Kang Gepeng.
Dengan didampingi petani yang sudah lebih dulu menerapkan pertanian berkelanjutan, Kang Gepeng dan petani lainnya membentuk kelompok Tani Hutan Nantu Lestari, sementara kaum wanitanya membentuk Kelompok Melati.
Baca Juga: Pj Wali Kota Padang Panjang: Pemko Akan Bikin Terobosan dan Inovasi Untuk Gali Potensi Daerah
“Program awal kami membangkitkan kembali tanaman cokelat. Ada 10 pohon sisa masa kejayaan di belakang rumah. Kami yakin mampu mengatasi serangan virus dari eksperimen 10 pohon yang tersisa,” kata Kang Gepeng.
Bersama 14 orang petani lainnya, kelompok Tani Hutan Nantu Lestari menggarap 10 ha lahan dengan tanaman cokelat. Biji cokelat kiriman dari petani Dusun Tumba Tamaila Utara Kabupaten Gorontalo disemai di pondok pembibitan di belakang rumah Kang Sapin, sang tetangga.
Dengan suguhan kopi dan pisang goreng, mereka membangun pondok pembibitan dengan pendampingan Bunaeri, salah seorang petani asal Jawa Tengah, dan Catur Mardi Raharjo, seorang pendamping penguatan kelompok tani.
Baca Juga: Pengintegrasian Gender Untuk Wujudkan Kesetaraan dan Keadilan dalam Pembangunan
“Petani Nantu Lestari harus disemangati untuk membuat bibit secara mandiri, agar tidak bergantung pada bibit dari luar. Kalau bisa, mereka mampu memproduksi bibit yang berkualitas dan bisa menjadi mitra pemerintah,” tutur Catur Mardi.
Bibit cokelat kiriman petani Tumba itu nantinya akan ditanam di kebun anggota kelompok. Setelah berumur 4-7 tahun, tanaman akan dilakukan sambung samping seperti yang pernah dilakukan Kang Gepeng.
“Sebagai petani, kami berharap dapat memakmurkan bumi ini, menerapkan pertanian yang ramah lingkungan. Kami menggunakan pupuk kandang,” ucap Kang Gepeng.
Baca Juga: Pengintegrasian Gender Untuk Wujudkan Kesetaraan dan Keadilan dalam Pembangunan
Kang Gepeng tetaplah Kang Gepeng. Sejak kecil sudah jatuh bangun dalam kegetiran hidup. Bahkan ia sudah tidak bisa merasakan bagaimana hidup susah lantaran sudah biasa dengan kehidupan yang pahit.
Saat menikmati kopi sajian Surtiyah, istri kesayangannya, di depan dapur. Tatapan matanya menyeruak ke dalam belantara hutan suaka marsatwa Nantu yang ada di hadapannya. Ia berharap hutan ini tetap lestari untuk mengalirkan air bersih sepanjang masa dan menjadi rumah harmoni bagi satwa liar.
Sesekali ia mengarahkan pandangannya ke belakang dapur. Ia tersenyum puas mampu menghijaukan area itu dengan tanaman tahunan. Padahal awal kedatangannya di Tamilo, ladang itu dipenuhi alang-alang. Tanaman tahunan yang menghijau itu beragam jenis, mulai dari pisang (Musa), petai (Parkia speciosa), cokelat (Theobroma cacao), kelapa (Cocos nucifera), kluwih (Artocarpus camansi), dan jenis kayu hutan.
Artikel Terkait
Capaian Akseptor KB Baru di Padang Panjang Lebihi Target
Enam Kader Posyandu di Berlomba jadi yang Terbaik di Padang Panjang Timur
UMRI Berikan Penghargaan Kepada Dosen dan Mahasiswa Peraih Pendanaan Proposal Pada Ajang PKM Tahun 2024
Tinjau Pembangunan PLHUT Pelalawan, Ditjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah Lakukan Monitoring dan Evaluasi
Plh Bupati Dairi Surung Charles Bantjin Pimpin Upacara Peringatan Hari Otonomi Daerah Ke-28 Tahun 2024
Sudah 90 Persen Lebih, Penetapan NIP PPPK Pemprov Riau Tahun 2023 Hampir Rampung
Pj Sekda Riau Hadiri Pengukuhan Profesor Kehormatan Akmal Malik
Balai Besar KSDA Jatim Gandeng TNI AL Jaga Suaka Margasatwa Pulau Nusa Barung
Awal Mei Disdik Riau Mulai Lakukan Sosialisasi PPDB
Bank Jatim Apresiasi Penghimpun Dana Terbesar Simpeda