Baca Juga: Catat Tanggalnya! Naik Bus Trans Metro Pekanbaru Gratis Selama 3 Hari
Tradisi dari leluhur ini memiliki cerita yang sangat erat dengan kelompok imigran China pertama yang meninggalkan Tanah Air mereka, serta menetap di pulau Sumatera yang kemudian dikenal dengan nama Bagansiapiapi. Bakar tongkang berarti membakar kapal terakhir tempat mereka berlayar, pada tahun 1826.
Dalam sejarahnya, diyakini bahwa leluhur Bagansiapiapi merupakan orang Tang-lang generasi Hokkien yang berasal dari Distrik Tong'an (Tang Ua) di Xiamen, Provinsi Fujian, China Selatan. Mereka disebut meninggalkan Tanah Air dengan kapal yang mempunyai pangkalan datar.
Kapal itu digunakan sebagai alat pengangkut pasir serta mineral yang ditambang, kemudian disebut tongkang. Awalnya ada tiga kapal tongkang saat ekspedisi tersebut, tetapi cuma satu kapal yang menggapai tepi laut Sumatera.
Baca Juga: Selain Aura Mahalnya, Bagian Wajah Hyein NewJeans Ini Juga Disebut yang Terbaik
Dalam festival budaya Bakar Tongkang Rohil 2024 ini, Pemprov Riau memberikan bantuan pada sektor-sektor pendukung agar pelaksanaan acara berjalan sukses.
Proses Ritual Bakar Tongkang dimulai dari Klenteng Ing Hok Kiong yang merupakan klenteng tertua di Kota Bagansiapiapi. Dari kelenteng tersebut, para peserta Bakar Tongkang bergotong royong, saling bahu membahu secara bergantian mengangkat replika Kapal Tongkang.
Replika Kapal Tongkang diarak dan digotong secara bergantian. Perlengkapan ornamen Tionghoa memenuhi kota itu. Seketika tampak suasana seperti sebuah China Town.
Baca Juga: Kemendikbudristek Nilai Kebudayaan Berperan dalam Pembangunan Nasional
Aroma kepulan asap dari bakaran Hio atau dupa juga tercium tajam. Namun, kondisi itu tak menyurutkan niat wisatawan untuk menyaksikan tradisi tersebut.
Replika Kapal Tongkang yang diarak massa tiba di lokasi pembakaran pukul 16.55 WIB. Kemudian, dinaikkan ke atas tumpukan kertas sembahyang warna kuning atau Kim ChuaChua. Kemudian, replika kapal tongkang dibakar.
Akhirnya momen yang ditunggu-tunggu tiba, tiang layar tongkang yang dibakar jatuh ke arah darat. Menurut kepercayaan warga Tionghoa Bagansiapiapi, arah jatuhnya tiang menunjukkan keselamatan dan peruntungan usaha. Di mana peruntungan tahun ini berada di darat berdasarkan jatuhnya tiang.
Artikel Terkait
KCL Dinilai Dapat Serap Investasi Hingga Rp33 Miliar
Purnomo Yusgiantoro Optimis Pemerintah Terus Kembangkan Energi Terbarukan
Membaca Nyaring Picu Kegemaran Membaca Anak Sejak Dini
Kemendikbudristek Nilai Kebudayaan Berperan dalam Pembangunan Nasional
Peringati HUT Pekanbaru ke-240 Tahun, Ida Yulita Susanti Ajak Semua Kelompok Bersatu Membangun Pekanbaru
Selain Aura Mahalnya, Bagian Wajah Hyein NewJeans Ini Juga Disebut yang Terbaik
Catat Tanggalnya! Naik Bus Trans Metro Pekanbaru Gratis Selama 3 Hari
Jelang HKG PKK Ke- 52 Tingkat Provinsi Tahun 2024, Kabupaten Kampar Matangkan Persiapan
Hadir di Rohil, Bunda PAUD Riau Adrias Hariyanto Minta Semua Pihak Waspadai Stunting
Pelebaran Jalan SSK, Pagar Mesjid Annur dan Tiang Listrik di Median Sudah Dibongkar