RIAUMAKMUR.COM - Desa Mukti Sari, Tapung, Kampar, kini menjadi contoh sukses dalam memanfaatkan limbah biogas untuk meningkatkan ekonomi warga.
Salah satu yang merasakan manfaatnya adalah Ketua Kelompok Tani Bhina Mukti Sari, Sudarman, yang mampu menghemat biaya pengeluaran rumah tangganya berkat pemanfaatan biogas dan bioslurry dari kotoran sapi.
Sudarman dan keluarganya sangat bergantung pada ternak sapi, kini tidak hanya mendapat manfaat dari biogas untuk kebutuhan memasak dan penerangan, tetapi juga dari produk sampingan biogas, seperti bioslurry yang digunakan sebagai pupuk organik cair (POC) dan padat (POP).
Sebelum menggunakan biogas, Sudarman harus membeli empat tabung gas elpiji 3 kilogram (gas melon) setiap bulan dengan biaya sekitar Rp100 ribu. Setelah beralih ke biogas, pengeluarannya untuk gas turun drastis.
"Sekarang saya hanya perlu satu tabung gas melon, itu pun hanya untuk cadangan. Biogas juga digunakan untuk penerangan di teras rumah dan kompor tetangga," ungkap Sudarman. Penghematannya mencapai Rp80 ribu setiap bulan.
Tak hanya itu, limbah padat dari biogas yang dihasilkan dari kotoran sapi juga dimanfaatkan Sudarman sebagai pakan ikan, ayam, dan bebek.
Baca Juga: Bisa Gunakan Materai Tempel, Jumlah Pelamar CPNS Pemko Pekanbaru Beetambah
Di kolam lelenya, penggunaan limbah padat ini berhasil menghemat pembelian pakan hingga dua karung, yang biasanya menghabiskan biaya sekitar Rp700 ribu sampai Rp800 ribu.
Sudarman juga menggunakan pupuk organik dari limbah biogas untuk kebun sawitnya. Sebelum ini, ia harus mengeluarkan Rp6,8 juta setiap bulan untuk membeli pupuk kimia.
Namun, dengan menggunakan pupuk organik dari bio-slurry, biaya yang dikeluarkan menurun drastis hingga Rp6,1 juta per bulan.
Baca Juga: Perluasan Percontohan Desa Anti Korupsi, Pemkab Pulang Pisau Adakan Sosialisasi
"Panen sawit sekarang lebih baik, dengan hasil sekitar satu ton per kapling, kadang bisa lebih," jelasnya.
Pemanfaatan bioslurry tidak hanya dirasakan Sudarman, tetapi juga warga lain seperti Muliardi atau yang akrab disapa Mbah Suhada.
Pria 78 tahun ini juga merasakan manfaat besar dari penggunaan pupuk organik untuk sawah dan kebun sawitnya.
Artikel Terkait
Perluasan Percontohan Desa Anti Korupsi, Pemkab Pulang Pisau Adakan Sosialisasi
KADIN Indonesia Bersama Pemerintah Tingkatkan Upaya Transisi Energi
Anak PAUD dan TK Unjuk Kreativitas dalam Lomba Mewarnai di Festival Literasi Buleleng
Kuliner Khas Indonesia Ramaikan Bazar UMKM Sarinah
Kemenhub Ajak Semua Pihak Perkuat Ekosistem Logistik Nasional
'Tak Ada Bagian yang Menonjol' Netizen Sebut Lagu Debut MEOVV Meow Norak dan Mengecewakan
Debut Dengan Run Away, Lagu dan Visual Indah Tzuyu TWICE Buat Netizen Terpesona
PON XXI Sumut Sediakan Tiket Gratis Pertandingan
Bisa Gunakan Materai Tempel, Jumlah Pelamar CPNS Pemko Pekanbaru Beetambah
Usaha Tak Mengkhianati Hasil! Day6 Kini Menjelma Jadi Digital Monster Usai Lagu Mereka Berhasil Masuk Tiga Perangkat Teratas di MelOn