DESA HARAPAN MAJU (Desa samaran) merupakan sebuah desa agraris yang berada disalah satu Kabupaten di Riau. Sebagian besar masyarakatnya bekerja disektor pertanian yaitu pertanian tanaman pangan, perkebunan dan peternakan.
Pagi itu, suasana di desa tersebut gempar. Paino (nama samaran) ngamuk dengan membawa parang karena dipanggil ke kantor desa untuk di sidang.
Usut punya usut, ternyata Paino dua hari yang lalu melakukan penganiayaan terhadap puluhan sapi milik juragan Toyib (nama samaran).
Paino ngamuk dan merasa dirugikan karena dua hari yang lalu tanaman padi dan jagungnya habis porak poranda digarap sapi-sapi juragan Toyib yang berjumlah puluhan ekor dan tidak dikandangkan.
Apa yang dialami Paino ternyata sudah terjadi berkali-kali dan itu bukan hanya dialami oleh Paino, tetapi juga dialami oleh petani-petani lainnya.
Kisah yang dialami Paino merupakan salah satu gambaran bahwa upaya mewujudkan swasembada pangan ternyata penuh dengan tantangan dan jalan terjal.
Kisah diatas menggambarkan bahwa tantangan bukan hanya disebabkan oleh semakin minimnya lahan dan turunnya minat menjadi petani, namun justru ternyata berasal dari sektor pertanian itu sendiri yaitu subsektor peternakan.
Lantas, apa saja tantangan mewujudkan swasembada pangan serta langkah apa saja yang harus dilakukan?
Hasil Sensus Pertanian 2023 menggambarkan bahwa meskipun di Riau terjadi kenaikan jumlah usaha pertanian dari sebelumnya sebanyak 684, 57 Ribu pada tahun 2013 menjadi 728,65 Ribu pada tahun 2023, akan tetapi terjadi penurunan signifikan jumlah rumah tangga usaha pertanian subsektor tanaman pangan dari 109,38 ribu pada tahun 2013 menjadi hanya 65,99 ribu pada tahun 2023 atau terjadi penurunan sebesar minus 39,67 persen.
Tersedianya pangan yang cukup merupakan cerminan bahwa suatu negeri telah berdaulat dalam pangan.
Tersedianya pangan yang melimpah akan membuat suatu negeri kuat karena masyarakatnya terpenuhi segala kebutuhan pangannya.
Bahkan sejarah mencatat, suatu negeri akan hancur ketika bencana kelaparan terjadi akibat urusan perut rakyatnya tidak terpenuhi.
Oleh karenanyaya tidak heran jika suatu negara menggelontorkan dana yang begitu besar demi menjaga ketahanan pangan dengan terus menerus meningkatkan produksi pangannya.
Meningkatkan produksi pangan melaui berbagai cara memang tidaklah mudah.
Minimnya komitmen, sikap, pengetahuan serta kebijakan daerah belum sepenuhnya peduli dengan pangan.
Artikel Terkait
Pj Gubri SF Hariyanto Minta BRS dari BPS Jadi Acuan Pengambilan Kebijakan Ekonomi
Sebagai Objek Survei BPS, Warung TPID Bakal Terus Beroperasi
BPS Batang Lakukan Podes 2024, Penting untuk Perencanaan Pembangunan Desa
Pedagang melayani pembeli sayuran di Pasar Kebayoran Lama, Jakarta, Kamis (1/8/2024). BPS mencatat inflasi Indonesia pada Juli 2024 mencapai 2,13 pers
Audiensi Bersama BPS, BI, OJK dan Bulog, Pj Gubri: Mari Bekerja Bersama
BPS Kampar Adakan FGD Bahas PDRB dan Inflasi, Satukan Pemahaman Terkait Pentingnya Data Statistik
BPS Kampar Selenggarakan Bimbingan Teknis II Desa Cantik
BPS Catat Riau Inflasi 1,51 Persen di Bulan Oktober 2024
TPK Hotel Berbintang di Riau Naik, BPS Riau Sebut Indikator Produktivitas Sektor Akomodasi Menguat
BPS: Harga Beras Turun Tipis Pekan Kedua November