Serta adanya peningkatan RTUP Gurem serta petani gurem di Provinsi Riau menggambarkan bahwa upaya peningkatan produksi pangan di Riau menghadapi jalan terjal sehingga membutuhkan komitmen daerah secara maksimal untuk memberikan perhatian secara penuh terhadap pangan.
BERTANI PANGAN CENDERUNG MERUGI
Pada Januari 2024, Nilai Tukar Petani Tanaman Pangan (NTPP) mengalami penurunan indeks sebesar 0,23 persen dibandingkan dengan Nilai Tukar Petani Tanaman Pangan (NTPP) bulan sebelumnya, yaitu 98,54 pada Desember 2023 menjadi 98,31 pada Januari 2024.
Hal ini disebabkan oleh indeks harga yang diterima petani mengalami penurunan sebesar 0,16 persen, sementara indeks harga yang dibayar petani hanya naik sebesar 0,07 persen.
Turunnya indeks harga yang diterima petani untuk subsektor tanaman pangan ini disebabkan turunnya indeks harga kelompok padi sebesar 0,28 persen (khususnya gabah).
Sementara itu, kenaikan indeks yang dibayar disebabkan oleh naiknya indeks BPPBM sebesar 0,34 persen (khususnya TSP/SP 36, Urea, NPK, Bibit Padi, dll).
Disamping itu, Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) Tanaman Pangan yang dirilis BPS pada Januari 2024 hanya sebesar 97,07 persen.
Salah satu indikator yang mampu menggambarkan apakah usaha sub sektor tanaman pangan menarik atau tidak adalah dengan melihat seberapa besar nilai tukar petaninya.
Menarik atau tidak memiliki makna apakah usaha tersebut menguntungkan atau tidak untuk dilakukan.
Melihat fenomena diatas, satu hal yang harus menjadi kesepakatan kita bersama bahwa menurunnya Nilai Tukar Petani pada sub sektor tanaman pangan merupakan Early Warning atau peringatan dini terhadap kondisi usaha tanaman pangan apakah usaha tersebut menguntungkan atau tidak untuk dilakukan.
Nilai penurunan memiliki arti bahwa pada periode tersebut nilai uang yang dibayar petani tanaman pangan lebih besar dibandingkan nilai uang yang diterima mereka, artinya pada periode tersebut petani mengalami kerugian.
Selain itu, menurunnya nilai tukar petani tanaman pangan sering kali disebabkan oleh menurunnya hasil panen mereka sebagai dampak cuaca buruk ataupun faktor lain.
Sehingga tingginya biaya yang dikeluarkan oleh petani tanaman pangan tidak sebanding dengan nilai yang mereka peroleh atau bahkan mereka tidak mendapatkan apa-apa setelah panen.
Kondisi diatas jika terus dibiarkan akan membuat petani tanaman pangan akan berhenti bertani sehingga tidak lagi memiliki pendapatan, apalagi jika mereka hanya menggantungkan hidup dari bertani.
Kondisi bahwa petani tanaman pangan cenderung merugi ditambah dengan rendahnya kualitas sumber daya terutama dalam hal pengelolaan keuangan serta minimnya akses mereka pada permodalan semakin mengurangi minat masyarakat untuk menjadi petani.
Artikel Terkait
Pj Gubri SF Hariyanto Minta BRS dari BPS Jadi Acuan Pengambilan Kebijakan Ekonomi
Sebagai Objek Survei BPS, Warung TPID Bakal Terus Beroperasi
BPS Batang Lakukan Podes 2024, Penting untuk Perencanaan Pembangunan Desa
Pedagang melayani pembeli sayuran di Pasar Kebayoran Lama, Jakarta, Kamis (1/8/2024). BPS mencatat inflasi Indonesia pada Juli 2024 mencapai 2,13 pers
Audiensi Bersama BPS, BI, OJK dan Bulog, Pj Gubri: Mari Bekerja Bersama
BPS Kampar Adakan FGD Bahas PDRB dan Inflasi, Satukan Pemahaman Terkait Pentingnya Data Statistik
BPS Kampar Selenggarakan Bimbingan Teknis II Desa Cantik
BPS Catat Riau Inflasi 1,51 Persen di Bulan Oktober 2024
TPK Hotel Berbintang di Riau Naik, BPS Riau Sebut Indikator Produktivitas Sektor Akomodasi Menguat
BPS: Harga Beras Turun Tipis Pekan Kedua November