Tangis Penyintas Longsor Banjarnegara: Suara Gemuruh, Arah Pelarian, Hingga Penyelamatan ke Hutan

photo author
Ratna RM, Riau Makmur
- Jumat, 21 November 2025 | 10:34 WIB
Menyoroti fakta terkini terkait insiden longsor yang terjadi di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. (X.com/@KemenPU)
Menyoroti fakta terkini terkait insiden longsor yang terjadi di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. (X.com/@KemenPU)

RIAUMAKMUR.COM – Insiden longsor yang mengguncang Desa Pandanarum di Kecamatan Pandanarum, Banjarnegara, Jawa Tengah, Kamis 20 November 2025, masih menjadi perhatian publik.

Longsoran besar menyapu permukiman warga dan meninggalkan kerusakan masif.

Hingga Jumat, 21 November 2025 pukul 09.00 WIB, jumlah korban meninggal dunia bertambah menjadi 10 orang.

Baca Juga: Setelah Cilacap, Longsor Terjang Banjarnegara: 179 Warga Mengungsi, Video Detik-Detik Kejadian Viral

Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menyampaikan perkembangan terbaru proses evakuasi.

"Atas penemuan ini, jumlah korban meninggal dunia menjadi 10 orang, sementara 18 orang masih dalam pencarian," kata Abdul Muhari dalam keterangan resminya.

Keluarga korban terus menunggu kabar dengan penuh kecemasan, sementara proses penyelamatan berlangsung di tiga sektor berbeda. Skala kerusakan juga cukup besar: 48 rumah roboh atau hilang, 195 rumah terdampak, 7 warga terluka, dan 934 jiwa terpaksa mengungsi ke titik yang telah disiapkan pemerintah daerah.

Suasana posko pengungsian dipenuhi rasa takut dan trauma terutama dari warga yang menyaksikan langsung amukan tanah dari lereng yang jebol.

Upaya Evakuasi Berlangsung di Tengah Ancaman Longsor Susulan

Operasi pencarian melibatkan sekitar 700 personel gabungan dari Basarnas, TNI, Polri, BPBD, relawan, dan unsur pendukung lainnya. Peralatan seperti alkon, anjing pelacak, alat berat, serta operasi modifikasi cuaca dikerahkan untuk mempercepat penanganan.

Namun, situasi lapangan sangat menantang.

"Ada potensi longsor susulan akibat hujan, kubangan air di area longsoran, serta aliran mata air yang terus mengalir, sehingga memperlambat proses evakuasi," ujar Abdul Muhari.

Untuk mengurangi risiko, tim membuat jalur pembuangan air agar area longsoran tidak semakin jenuh. Total 12 unit excavator dan 12 alkon dikerahkan untuk membuka akses material yang menutup jalur.

Kisah Penyintas Mengungsi ke Hutan

Di balik angka dan data, tersimpan kisah pilu para penyintas. Detik-detik bencana berlangsung sangat cepat dan penuh kepanikan. Suara gemuruh menjadi tanda bahaya pertama bagi warga.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Ratna RM

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X