berita

Terapkan Pertanian Berkelanjutan, Kang Gepeng Menggapai Asa di Tepi Suaka Margasatwa Nantu

Sabtu, 27 April 2024 | 15:05 WIB
Tursino alias Kang Gepeng, petani tangguh di tepi Suaka Margasatwa Nantu.

RIAUMAKMUR.COM  - Nama aslinya Tursino, tapi ia lebih familiar dipanggil Kang Gepeng oleh teman-teman dan tetangganya. Ia adalah petani tangguh asal Jawa yang memutuskan untuk menetap di Gorontalo bersama keluarganya.

Kang Gepeng lahir di Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, pada tahun 1980. Tahun 2005 ia ditinggalkan bapaknya untuk ikut program transmigrasi dengan penempatan di Desa Saritani, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Boalemo, Provinsi Gorontalo.

Tidak banyak yang diketahui kegiatan orang tuanya di Boalemo. Selain komunikasinya sulit, ia juga sibuk bertahan hidup bersama keluarganya dengan membuat gula merah di Ciamis. Ia setiap hari naik dari pohon kelapa ke pohon kelapa untuk menampung air nira. Kegiatan itu ia lakoni bersama istri dan anaknya.

Baca Juga: Bank Jatim Apresiasi Penghimpun Dana Terbesar Simpeda

“Waktu di Jawa saya membuat gula merah dari air nira kelapa, tidak banyak penghasilan dari pekerjaan ini, hanya Rp500 ribu sampai Rp600 ribu per bulan,” kata Kang Gepeng mengenang masa lalunya saat tinggal di Ciamis, Sabtu (27/4/2024).

Pendapatan pembuat gula merah tak selalu mencukupi dalam mengongkosi rumah tangganya, lebih banyak tekornya. Produknya tak selalu mampu bersaing dengan produk serupa, bahkan banyak produk gula pasir yang menggusur keberadaan gula merah.

Kegetiran petani kecil membuat Kang Gepeng berpikir apakah ia akan terus begini bersama keluarga dalam kegetiran hidup. Di saat-saat seperti itu, ia acap teringat bapaknya yang jauh di Boalemo.

Baca Juga: Awal Mei Disdik Riau Mulai Lakukan Sosialisasi PPDB

Sebagai anak yang punya ikatan batin dengan bapaknya, Kang Gepeng sering kepikiran dengan kondisi sang bapak yang hidup sendiri di daerah Satuan Permukiman (SP) 1 Saritani. Apalagi ia sering mendengar kabar bahwa bapaknya sering sakit-sakitan di negeri seberang.

Kang Gepeng pun mengumpulkan uang dari penjualan gula merah sedikit demi sedikit untuk bisa membeli tiket kapal laut agar bisa sampai di Boalemo. Enam tahun setelah kepergian bapaknya ikut transmigrasi, Kang Gepeng berhasil membeli tiket dan memberanikan diri menengok bapaknya ke daerah yang ia belum kenal.

“Bapak ikut transmigrasi pada 25 Desember 2005, selama tidak bertemu, saya kepikiran dengan kesehatannya. Bagaimana jauhnya untuk ditempuh, saya harus berjuang agar bertemu bapak,” ungkap Kang Gepeng.

Baca Juga: Balai Besar KSDA Jatim Gandeng TNI AL Jaga Suaka Margasatwa Pulau Nusa Barung

Pada 15 Juni 2006, Kang Gepeng berangkat menemui bapaknya di Boalemo. Tidak mudah untuk sampai di tempat itu. Tidak ada transportasi yang memadai seperti di kota besar, bahkan hingga saat ini.

Setelah tinggal di kawasan Tamilo Dusun V Desa Saritani, Kang Gepeng melihat kondisi lahan yang masih luas. Bahkan tidak jauh dari rumahnya terdapat hutan yang sangat lebat dengan pohon yang besar-besar serta batang rotan yang mengular dari pohon ke pohon.

Hidup berdekatan dengan bapaknya, Kang Gepeng mulai berpikir untuk ikut mengolah ladang daripada hidup berdesak-desakan di Pulau Jawa dalam kondisi yang belum sejahtera. “Ada rasa ingin mencoba hidup di daerah transmigrasi bersama keluarga,” tutur Kang Gepeng.

Halaman:

Tags

Terkini