berita

BRIN Dorong Komersialisasi Hasil Riset dan Inovasi Kesehatan oleh Industri

Rabu, 29 Mei 2024 | 20:16 WIB
Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional, Laksana Tri Handoko/foto: Galeri InfoPublik

RIAUMAKMUR.COM – Badan Riset dan Inovasi Nasional akan mempertemukan periset dan industri untuk mendorong komersialisasi terkait hasil riset dan Inovasi di bidang kesehatan.

Berdasarkan keterangan tertulis dari siaran pers BRIN, Rabu (29/5/2024), Hal tersebut dilakukan karena Kebutuhan produk farmasi dan alat kesehatan dalam negeri cukup tinggi. Namun, pemenuhan kebutuhan tersebut masih bergantung pada produk impor. Di sisi lain, bidang kesehatan menjadi salah satu dari sembilan fokus bidang riset yang menjadi prioritas riset nasional 2023-2024.

Untuk mendorong komersialisai hasil riset dan inovasi bidang kesehatan, BRIN akan menggelar Temu Bisnis, sebagai sarana bertemunya para periset BRIN dengan berbagai hasil riset dan inovasinya dengan pihak industri. Dengan tujuan, agar hasil-hasil riset dan inovasi dapat dikomersialisasikan oleh industri. Temu Bisnis Pemanfaatan Hasil Riset dan Inovasi Bidang Kesehatan tersebut akan diselenggarakan pada Kamis (30/5/2024), di Gedung B. J. Habibie, Jakarta.

Baca Juga: Menuju Kota Industri, Batang Butuh Pengamanan Ekstra

Berdasarkan informasi yang InfoPublik terima dari humas BRIN, pemenuhan terhadap kebutuhan produk alat kesehatan di Indonesia masih didominasi oleh impor. Hingga akhir semester pertama 2023 berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan, 88 persen transaksi alat kesehatan melalui e-katalog merupakan produk impor. Data juga menunjukkan bahwa ketergantungan impor bahan baku obat dalam negeri mencapai angka 90 persen.

Kepala BRIN Laksana Tri Handoko mengatakan, bidang kesehatan termasuk dalam sembilan fokus bidang riset yang menjadi prioritas riset nasional. Hal ini berdasarkan Keputusan Kepala BRIN nomor 104/I/HK/2023 tentang Percepatan Program Prioritas Riset Nasional tahun 2023 sampai 2024.

“Kegiatan temu bisnis menjadi salah satu sarana bertemunya para periset BRIN dengan berbagai hasil riset dan inovasinya dengan pihak industri. Dengan tujuan ada hasil-hasil riset dan inovasi yang dapat dikomersialisasikan oleh industri,” kata Handoko.

Baca Juga: Sangat Baik', Pemprov Jabar Raih Nilai Tertinggi Penerapan Sistem Merit 2024

Selain itu, pertemuan itu juga membuka peluang kerja sama dan kolaborasi riset antara BRIN dan industri. Harapan diadakanya pertemuan itu, semoga ada masukan serta feedback dari industri tentang kebutuhan-kebutuhan riset dan inovasi.

“Karena seyogyanya yang lebih memahami kebutuhan pasar adalah pihak industri, baik permintaan dari end user seperti pasien dan rumah sakit, maupun program pemerintah melalui Kementerian Kesehatan,” ujar Handoko.

Deputi Bidang Pemanfaatan Riset dan Inovasi BRIN, R. Hendrian turut mengatakan, kegiatan Temu Bisnis ini dibagi menjadi lima bidang fokus, yakni farmasi dan radiofarmaka; obat tradisional, fitofarmaka dan kosmetika; alat kesehatan berbasis kecerdasan artifisial, elektromedik dan mekatronik; alat kesehatan berbasis material dan non-elektrik; dan vaksin, biofarmasi dan terapeutik.

Baca Juga: Berbangga! Desa Les Tejakula Berhasil Jadi 50 Besar ADWI 2024

“Selain itu juga akan disampaikan beberapa skema fasilitasi yang mendorong industri untuk melaksanakan riset dan inovasi di bidang kesehatan. Diantaranya pemanfaatan infrastruktur riset dan inovasi, super tax deduction dan e-katalog inovasi, audit dan alih teknologi, strategi dan fasilitasi pendanaan riset dan inovasi, dan sistem registrasi lembaga riset (Sebaris),” kata Hendrian.

Sebagai informasi bahwa kegiatan temu bisnis tersebut akan diikuti sekitar 400 peserta dari industri bidang kesehatan, periset BRIN, asosiasi industri kesehatan, Kementerian Kesehatan, dan Badan Pengawas Obat dan Makanan.

Tags

Terkini