Pulau Tak Berpenghuni pun Kena Sanksi, Penguin di Antartika Jadi Korban Perang Dagang Trump

photo author
Ratna RM, Riau Makmur
- Sabtu, 5 April 2025 | 20:00 WIB
Ilustrasi penguin. (Peter Kimball/Lembaga Oseanografi Woods Hole)
Ilustrasi penguin. (Peter Kimball/Lembaga Oseanografi Woods Hole)

Fakta ini menimbulkan tanda tanya besar—dari mana mesin-mesin itu dikirim, mengingat tidak ada satu pun aktivitas industri di sana?

Baca Juga: Trump Berlakukan Tarif 32 Persen untuk Indonesia, Ini Alasan dan Dampaknya

Albanese: Bahkan Penguin Tak Aman dari Trump

Menanggapi kebijakan ini, Perdana Menteri Australia Anthony Albanese menyindir keras langkah Trump.

“Tidak ada tempat di Bumi yang aman,” katanya.

Ia menyebut Pulau Norfolk sebagai contoh nyata betapa kebijakan ini dilakukan tanpa mempertimbangkan realitas ekonomi maupun logika geografis.

"Apakah Pulau Norfolk benar-benar ancaman bagi ekonomi Amerika Serikat?" sindir Albanese.

Donald Trump
Donald Trump (instagram.com/whitehouse)

Logika Dagang Vs Realitas Geografis

Ketidakkonsistenan data ekspor dan fakta lapangan menunjukkan celah besar dalam kebijakan sanksi dagang AS.

Dalam lima tahun sebelumnya, nilai impor AS dari Pulau Heard dan McDonald hanya berkisar antara 15.000 hingga 325.000 dolar AS—angka yang sangat kecil dan diduga berasal dari kesalahan klasifikasi data atau pelabelan ulang barang di pelabuhan lain.

Meski demikian, wilayah sunyi yang hanya menjadi rumah bagi burung laut dan penguin itu kini tercatat dalam dokumen resmi Gedung Putih sebagai “target dagang”.

Fenomena ini memperlihatkan bagaimana strategi ekonomi adidaya bisa melampaui batas nalar.

Ketika penguin di Antartika ikut terkena imbas perang dagang, dunia pun patut bertanya ulang: apa sebenarnya tujuan kebijakan ini?

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Ratna RM

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X