Komitmen Hilirisasi Rumput Laut lewat Inovasi Riset Bioindustri

photo author
Ikhwan RM, Riau Makmur
- Kamis, 31 Oktober 2024 | 19:24 WIB
Kepala Pusat Riset Bioindustri Laut dan Darat BRIN, Fahrurozi
Kepala Pusat Riset Bioindustri Laut dan Darat BRIN, Fahrurozi

RIAUMAKMUR.COM - Kepala Pusat Riset Bioindustri Laut dan Darat Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Fahrurozi, mengungkapkan komitmen pihaknya dalam mengembangkan inovasi bioindustri berbasis rumput laut melalui riset terpadu dari hulu hingga hilir.

Hal itu diungkapkannya dalam Forum Group Discussion (FGD) “Ekonomi Biru: Pengembangan dan Pemanfaatan Potensi Rumput Laut dan Garam” di Gedung BJ Habibie, Jakarta, Rabu (30/10/2024).

Fahrurozi menjelaskan BRIN telah mendirikan pusat riset di Lombok, yang difokuskan pada pemanfaatan biota laut untuk mendukung industri pangan, kosmetik, biomaterial, hingga bioenergi.

Baca Juga: Pjs Walkot Tangsel Tutup SMPN 8 Dua Pekan

Pusat riset ini memiliki fasilitas laboratorium lengkap dengan alat analisis seperti HPLC dan GC yang dapat digunakan untuk berbagai penelitian biota laut, termasuk mikroalga, rumput laut, dan teripang.

Lebih jauh, dia menerangkan dalam dua tahun terakhir, riset di Lombok difokuskan pada beberapa komoditas utama, termasuk mikroalga, rumput laut, dan teripang yang memiliki banyak manfaat bioperspektif, baik untuk pangan, functional food, biostimulan, bioplastik, hingga energi. “Mengapa kami memilih rumput laut dan teripang? Karena potensi besar mereka sebagai bahan baku untuk berbagai produk inovatif di bio-industri,” Fahrurozi mengungkapkan.

Di pusat riset bioindustri Lombok, Fahrurozi menguraikan berbagai produk turunan rumput laut yang telah dikembangkan, di antaranya produk kosmetik, nutrasetikal, biostimulan, biomaterial, dan bioenergi.

Baca Juga: DPRD Kampar Inisiasi Program Sosperda Untuk Tingkatkan Kesadaran Masyarakat

Produk seperti yogurt dari rumput laut, abon laut, tortilla laut, hingga kosmetik dari ekstrak picoeritin merupakan beberapa inovasi yang siap dikembangkan bersama industri dan UMKM lokal.

Fahrurozi juga menyoroti peluang besar untuk mengembangkan biskuit bergizi tinggi dari rumput laut untuk mencegah stunting di wilayah pesisir. Selain itu, pihaknya juga mengembangkan beras analog dari rumput laut yang diharapkan menjadi alternatif substitusi pangan yang sudah siap dihilirkan dan sudah mendapatkan paten.

"Kami ingin melibatkan UMKM dan industri lokal di Lombok dan NTB untuk mendukung upaya pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan dan kesehatan masyarakat. Jadi sudah lumayan banyak produk yang nanti mungkin ini untuk bisa di-upscaling, dikembangkan nanti untuk masyarakat di NTB,” ia menandaskan.

Baca Juga: Transformasi Positif Humas Polri dalam Manajemen Persepsi Publik

Sebagai bagian dari upaya hilirisasi dan kolaborasi internasional, BRIN berencana mendirikan International Tropical Seaweed Research Center di Lombok. Fasilitas ini diharapkan akan menjadi pusat riset rumput laut tropis dari pengembangan bibit hingga proses hilir, dengan produk akhir seperti biostimulan, pangan, nutrasetikal, dan bioenergi.

Rencana tersebut diharapkan memperkuat posisi Indonesia sebagai penghasil rumput laut terbesar kedua di dunia, dengan potensi lebih dari 12 juta hektare lahan yang belum sepenuhnya termanfaatkan.

Dengan produksi rumput laut sebesar 9,6 juta ton pada 2022, dan kontribusi devisa mencapai 400 juta dolar pada 2023, rumput laut dinilai sebagai komoditas strategis. Fahrurozi optimistis, jika riset dan hilirisasi terus dikembangkan, maka sektor ini dapat membuka lapangan pekerjaan baru dan meningkatkan ekonomi masyarakat pesisir.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Ikhwan RM

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X