RIAUMAKMUR.COM - Usai menjalankan mabit di Muzdalifah, para jemaah haji kemudian melanjutkan ibadah ke Mina.
Permasalahan muncul di media sosial mengenai kabar banyak jemaah haji yang memilih jalan kaki dari Muzdalifah ke Mina karena bus jemputan datang terlambat.
Kementerian Agama melalui Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi memberikan penjelasan serta kronologi jemaah yang berjalan kaki dari Muzdalifah ke Mina.
Baca Juga: Viral Video Jemaah Haji Terlantar di Hotel, PPIH Tegaskan Sudah Ditangani dengan Baik
Pemberangkatan jemaah dari Muzdalifah ke Mina sudah sesuai dengan kebijakan Pemerintah Arab Saudi, yaitu dimulai pukul 23.35 Waktu Arab Saudi (WAS), pada 10 Zulhijjah 1446 H.
“Namun secara keseluruhan, proses evakuasi berhasil dilakukan dan Muzdalifah dinyatakan kosong dari jemaah haji Indonesia pada pukul 09.40 WAS, terlambat 40 menit dari target yang ditetapkan,” ujar Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah, Hilman Latief, dikutip dari laman resmi Kemenag pada Minggu, 8 Juni 2025.
Penyebab terlambat adalah jadwal bus yang tidak konsisten karena ada ribuan bus yang dioperasionalkan dan antrian yang panjang.
Kemudian, ada masalah keterlambatan perputaran bus dari Mina ke Muzdalifah dalam beberapa jam pada rentang waktu tertentu karena kepadatan lalu lintas.
Baca Juga: 125.729 Jemaah Haji Indonesia Telah Tiba di Arab Saudi, Gelombang II Masih Terus Berdatangan
Menurut Hilman, dengan kondisi lelah jemaah menunggu bus jemputan, lantas banyak yang memilih untuk keluar dari pintu Muzdalifah.
“Karena bus yang terlambat datang, sebagian jemaah memutuskan untuk membuka pintu keluar di Muzdalifah dan berjalan kaki menuju Mina, ini memunculkan arus pergerakan spontan tanpa kendali,” terang Hilman.
Kemudian pada Jumat, 6 Juni 2025 atau 10 Zulhijjah 1446 H pagi, jemaah dari berbagai maktab, memutuskan berjalan kaki karena khawatir tidak terjemput dari Muzdalifah hingga siang hari.
Dalam suasana psikologi semacam itu, PPIH Arab Saudi akhirnya melepas sebagian jemaah namun tetap mengingatkan agar jemaah lansia dan risiko tinggi untuk tetap berada di Muzdalifah menunggu jemputan bus karena jaraknya 3-4 km baru masuk ke perbatasan.
“Pergerakan jemaah pejalan kaki berdampak pada kemacetan di jalur utama shuttle bus,” tambah Hilman.
Ia juga mengungkapkan bahwa PPIH Arab Saudi untuk menenangkan para jemaah.