RIAUMAKMUR.COM – Gubernur Riau Abdul Wahid menyampaikan keprihatinan atas tingginya jumlah warga Riau yang bekerja di luar negeri (TKI), khususnya di Malaysia, secara tidak resmi tanpa visa kerja.
Menurutnya, terdapat puluhan ribu tenaga kerja asal Riau yang bekerja sebagai migran non-prosedural, terutama berasal dari tiga daerah yakni Kepulauan Meranti, Dumai, dan Bengkalis.
“Saya baru saja berdiskusi dengan Menteri terkait masalah pekerja imigran. Dari data yang saya dapat, Meranti, Dumai, dan Bengkalis menjadi daerah penyumbang terbesar tenaga kerja tidak terdaftar ke Malaysia. Mereka umumnya bekerja di sektor informal dan tidak mengantongi visa kerja,” ujar Gubri Abdul Wahid saat menghadiri kegiatan di Kantor BPS Riau, Selasa (8/4/2025).
Baca Juga: Tarif Impor AS Naik, Gubernur Riau Wanti-Wanti Dampaknya pada Kelapa Sawit dan Tekstil
Ia menjelaskan, di Kepulauan Meranti yang jumlah penduduknya sekitar 200 ribu jiwa, ada sekitar 50 ribu orang yang menjadi pekerja migran tidak tercatat di Malaysia. Jumlah serupa juga ditemukan di Bengkalis dan Dumai, yang diperkirakan mencapai 20 ribu pekerja.
“Karena tidak memiliki visa kerja, mereka hanya bisa menetap di Malaysia selama 20-25 hari, lalu kembali ke Indonesia selama seminggu, kemudian berangkat lagi. Siklus ini terus berulang dan tidak pernah tercatat secara resmi. Ini berbahaya karena mereka tidak memiliki jaminan sosial maupun perlindungan kesehatan di negara tujuan,” ungkapnya.
Melihat kondisi tersebut, Wahid mendorong pemerintah pusat agar mengeluarkan kebijakan yang memungkinkan adanya visa kerja jangka pendek bagi pekerja informal.
Baca Juga: Lapangan Kerja Minim, 35 Ribu TKI Kepulauan Meranti ke Luar Negeri Secara Ilegal, Ini Kata Gubri
“Saya minta ada regulasi khusus agar mereka bisa bekerja secara legal selama 1 sampai 3 bulan. Ini akan memberikan banyak manfaat, seperti menurunkan angka pengangguran di daerah dan memberikan akses jaminan sosial kepada mereka,” kata Wahid.
Gubernur juga menekankan pentingnya pembenahan data untuk menyusun kebijakan yang tepat sasaran terkait tenaga kerja migran asal Riau.
“Saya senang bisa hadir di BPS hari ini, apalagi ada rilis data terbaru. Bagi saya, data yang tidak menyenangkan sekalipun tetap penting, karena itu menjadi dasar untuk kita mencarikan solusi,” tuturnya.
Menurutnya, keterbukaan terhadap data yang akurat akan menjadi landasan utama dalam merancang langkah-langkah kebijakan yang relevan dan menyentuh kebutuhan masyarakat. ***
Artikel Terkait
Hadiri KTT ASEAN ke-42, Puan Maharani Akan Perjuangkan Isu Perlindungan Pekerja Migran Indonesia
Mau Kabur ke Batam, Pelaku Perdagangan Migran TPPO Ditangkap di Bandara SSK II Pekanbaru
BP2MI Gagalkan Pemberangkatan 28 Calon Pekerja Migran Ilegal ke Malaysia Lewat Perairan Bengkalis
Selamatkan TKI dari Hukuman Gantung di Malaysia, Prabowo: Peran Aktivis Sangat Penting
KUR Penempatan PMI Dukung Calon Pekerja Migran Magang Luar Negeri
Mantan TKI Banyuwangi, Kini Sukses dengan Usaha Susu Kambing Perah
Polsek Kubu Gagalkan Kasus Perdagangan Orang dan Pekerja Migran Ilegal
BP3MI Riau Pulangkan 134 Pekerja Migran Ilegal
Menaker Sampaikan Tantangan dan Strategi Pelindungan Pemberdayaan Pekerja Migran
Kemendikdasmen Apresiasi Program KKN KI dan PKM KI untuk Anak Migran di Malaysia
25 Pekerja Migran Indonesia Dideportasi dari Malaysia, BP3MI Riau Fasilitasi Pemulangan
Lapangan Kerja Minim, 35 Ribu TKI Kepulauan Meranti ke Luar Negeri Secara Ilegal, Ini Kata Gubri
Dideportasi Malaysia, 105 Pekerja Migran Difasilitasi BP3MI Riau Pulang Lewat Dumai