RIAUMAKMUR.COM - Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) kembali menyelenggarakan Jakarta International Literary Festival (JILF) edisi ke-4 di kompleks Taman Ismail Marzuki. Berkolaborasi dengan Jakarta Content Week, acara ini akan berlangsung selama lima hari pada 27 November - 1 Desember 2024.
JILF merupakan sebuah wadah yang membuka percakapan lebih luas dengan dunia literasi. Dalam gelaran kali ini, JILF berupaya mempertajam dialog sastra di wilayah Asia Tenggara—yang kerap terabaikan dalam peta sastra dunia.
Direktur JILF, Anton Kurnia menyebut, Jakarta merupakan salah satu wilayah yang dipilihnya dalam hajatan sastra tahun ini. Hal ini dikarenakan Jakarta berperan strategis sebagai salah satu kiblat sastra di Asia Tenggara.
Baca Juga: Sambangi Kementrian Kelautan, Menteri P2MI Awasi Pekerja Perikanan
"Jakarta merupakan salah satu kiblat sastra di Asia Tenggara. Dan satu-satunya kota di Asia Tenggara yang memiliki predikat UNESCO City of Literature," kata Anton kepada RRI, di Teater Kecil (TIM), Jakarta, Rabu (27/11/2024) malam.
Sebagai UNESCO City of Literature, tentu saja Jakarta memerlukan adanya satu festival sastra internasional yang berkesinambungan dan bermutu.
Selain itu, JILF menjadi sarana untuk mengundang para penulis mancanegara dan menjadi ajang dialog kreatif dengan penulis Indonesia.
Baca Juga: Mentan Tindak Tegas Perusahaan Pupuk Rugikan Petani
Mengusung tema "F/acta: Words and Actions Aligned on Eco-Literature and Shared Culture, and Shared Future", JILF akan membahas tentang perkembangan teknologi dalam hidup manusia, yang berujung pada krisis lingkungan hidup, hingga perubahan iklim.
"Saat ini manusia sedang dihadapkan pada titik ambang batas, kala over-produksi menjadi kenyataan sehari-hari. Dalam dua dekade pula, krisis lingkungan hidup menyentuh titik yang sulit ditoleransi," ujarnya.
Selain itu, moda produksi yang bertumpu pada profit mengakibatkan limbah dan konsumsi energi yang berlebihan. Sehingga. bisa berdampak buruk bagi manusia, dan lingkungan.
Anton berharap melalui diskusi panjang ini, sejumlah karya sastra bisa menawarkan berbagai alternatif untuk menciptakan dunia yang lebih baik. "Di mulai dari kita, untuk tahu kapan mengambil jeda demi mengikuti ritme hidup yang lebih selaras dengan alam, " ujarnya penuh harap.
Diskusi sastra yang berlangsung selama lima hari ini akan dihadiri oleh 34 pembicara lokal hingga interlokal. Selain diskusi, JILF mengadakan "Malam 100 Tahun Sastrawan" di hari ketiga, yang merupakan pemberian penghargaan kepada sayembara kritik sastra A.A Navis.